Mengenal De Vries Legenda Toko Serba Ada di Kota Bandung

Menelisik De Vries: Jejak Departement Store Pertama dan Tertua di Kota Bandung

Di era modern saat ini, kita sudah sangat terbiasa dengan kehadiran minimarket yang menjamur hingga ke pelosok desa atau mall megah di pusat kota. Namun, tahukah Anda bahwa jauh sebelum tren ritel modern ini meledak, Kota Bandung sudah memiliki toko serba ada (toserba) legendaris yang menjadi kiblat belanja kaum elit pada masanya? Namanya adalah De Vries.


gedung de vries
image : wikimapia.org

Gedung yang berdiri megah di kawasan Asia Afrika ini bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah saksi bisu transformasi Bandung dari sebuah pemukiman kecil menjadi pusat gaya hidup di Hindia Belanda.

Asal-usul De Vries: Dari Tempat Nongkrong hingga Warenhuis

Menelusuri sejarahnya, pada tahun 1879, lokasi gedung ini awalnya merupakan tempat berkumpulnya orang-orang Belanda untuk bersosialisasi melalui perkumpulan yang bernama Societeit Concordia. Namun, pada tahun 1885, perkumpulan ini pindah ke gedung di seberangnya yang kini kita kenal sebagai Gedung Merdeka.

Setelah ditinggalkan, barulah pada tahun 1895, seorang pria bernama Klaas de Vries membuka sebuah toko kelontong di lokasi tersebut. Awalnya, toko ini tidak langsung menempati posisi yang kita lihat sekarang, melainkan berada di sisi utara alun-alun. Baru pada tahun 1899, Toko De Vries dibangun di lokasinya saat ini dengan mengadopsi gaya arsitektur Oud Indisch Stijl (Klasik Indis) yang sangat ikonik.

Pusat Belanja Mewah Para Preanger Planters

Dahulu dikenal dengan nama Warenhuis de Vries, tempat ini berkembang menjadi pusat perbelanjaan paling mewah di Bandung. De Vries menjadi destinasi wajib bagi para Preanger Planters (pengusaha perkebunan kaya) yang datang ke kota setiap akhir pekan untuk membelanjakan kekayaan mereka.

Kejayaan dan Pasang Surut Sang Legenda

Kegiatan usaha De Vries melesat tajam, bahkan setelah pendirinya tiada. Bangunannya sempat menjadi rumah bagi berbagai lini usaha prestisius, mulai dari toko pakaian eksklusif "Modelhuis Lafayette", toko daging berkualitas tinggi, hingga agen resmi mobil-mobil mewah Amerika seperti Chevrolet dan Cadillac.

Layaknya department store modern, De Vries menyediakan hampir semua kebutuhan kelas atas kala itu, seperti:

  • Dranken Provisien (minuman beralkohol)
  • Meubelen (perabotan/mebeler)
  • Porcelen Glas (barang pecah belah)
  • Sigaren (cerutu kualitas ekspor)
  • Kuns Boek Papierhandel (buku dan alat tulis seni)

Pasca kemerdekaan Indonesia, De Vries tetap bertahan sebagai toko pakaian. Namun seiring berjalannya waktu, fungsinya mulai berganti-ganti, bahkan sempat menjadi rumah makan Padang sebelum akhirnya terbengkalai dan sunyi selama bertahun-tahun.

Restorasi dan Wajah Baru De Vries

Titik terang bagi bangunan bersejarah ini muncul pada tahun 2005 ketika dibeli oleh Bank OCBC NISP. Pada pertengahan tahun 2010, dilakukan pemugaran besar-besaran di bawah arahan arsitek Ir. David Bambang Soediono.

Proses pemugaran ini mengusung konsep semi-restorasi yang bertujuan mengembalikan tampilan estetika bangunan seperti pada tahun 1955. Kini, De Vries kembali berdiri anggun, menjaga marwah sejarah Bandung sebagai "Paris van Java" sambil tetap fungsional di era modern.

Baca: Oleh Oleh Khas Kota Cirebon


Melihat De Vries hari ini adalah melihat bagaimana sejarah dan modernitas dapat bersanding secara harmonis. Bagi Anda pecinta wisata sejarah atau heritage, pastikan untuk mampir sejenak saat melintasi Jalan Asia Afrika untuk mengagumi detail arsitekturnya.

Baca: Mengisi Waktu Liburan dengan Berenang

Ingin bisnis pariwisata atau tempat usaha Anda diulas secara mendalam dan menarik seperti ini? Kontak Saya untuk Review Tempat Usaha Wisata
LihatTutupKomentar